"Saya mengatakan ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap komitmen pemerintah, komitmen Pak Prabowo untuk menegakkan HAM," ujar Habiburokhman, di Pelabuhan Merak, Kamis, (19/03/2026).
Politisi Gerindra itu mengatakan tindakan tersebut sangat menyakiti Prabowo. Karenanya, pemerintah mendesak penegak hukum melakukan penyelidikan secara profesional, serta TNI bisa membuka secara transparan.
Habiburokhman juga meminta seluruh penegak hukum dan TNI, bisa mengusut secara tuntas para pelakunya, termasuk otak di balik atau pemberi perintah penyiraman air keras kepada Andrie Yunus.
"Sangat sekali menyakiti kami dan kami ingin diusut sampai tuntas, yang merencanakan, yang terlibat, yang ikut membantu, dimintai pertanggung jawaban secara hukum," tegasnya.
Nantinya, lanjut Habiburokhman, jika ada masyarakat sipil yang terlibat kasus Andrie Yunus, maka persidangannya dilakukan oleh pengadilan negeri. Sedangkan oknum prajurit TNI, akan ditindak oleh Puspom dan peradilan militer.
"Dituntut kalau yang militer oleh oditur militer, yang sipil oleh JPU disidangkan di peradilan umum," jelasnya.
Desak Ungkap Motif dan Dalang
Anggota Komisi III DPR, Nasir Djamil, menanggapi penahanan empat anggota TNI oleh Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI dalam kasus dugaan penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus dari KontraS. Dia mempertanyakan motif di balik keterlibatan anggota TNI.
“Apakah mereka bertindak atas inisiatif pribadi atau melaksanakan perintah atasan? Inilah yang perlu didalami dan ditemukan benang merahnya,” kata Nasir pada wartawan, Kamis (19/3/2026).
Meski begitu, Nasir mengapresiasi pengakuan terbuka pimpinan TNI bahwa ada anggotanya yang diduga terlibat penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Dia juga mengapresiasi kerja sama polisi dan militer yang cepat mengungkap kasus penyiraman air keras.
“Kerja sama polisi dan militer ini diharapkan mampu menemukan dan menjawab pertanyaan publik, apakah para pelaku berdiri sendiri atau ada atasannya yang memerintahkan kejahatan tersebut,” ujarnya.
Namun, lanjut Nasir, pengakuan pimpinan TNI bahwa ada anggotanya yang diduga terlibat penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus patuh dicemaskan.
“Di satu sisi kita patut berterima kasih karena adanya pengakuan dari pimpinan TNI. Namun di sisi lain pengakuan dan kenyataan itu sangat mencemaskan keselamatan ruang sipil, supremasi hukum, dan akuntabilitas militer,” ucap Nasir.
Alarm Bahaya Demokrasi
Terpisah, anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion, mendesak aparat penegak hukum untuk membongkar aktor intelektual di balik serangan air keras terhadap Andrie Yunus. Menurutnya, tanpa mengungkap siapa yang memerintah dan apa motif di balik aksi tersebut, penegakan hukum hanya akan menyentuh permukaan tanpa menyelesaikan akar persoalan.
“Kami mengapresiasi pengungkapan pelaku, namun penanganan kasus ini tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan semata. Aparat harus mengungkap siapa aktor intelektual dan membuka motif aksi kekerasan ini secara terang benderang. Keadilan substantif hanya bisa tercapai jika pusat kendalinya terbongkar,” ujar Mafirion.
Mafirion menilai, keterlibatan oknum intelijen negara dalam serangan terhadap pembela HAM adalah alarm bahaya bagi demokrasi Indonesia. Dia mencurigai adanya upaya sistematis untuk membungkam kerja-kerja advokasi kemanusiaan melalui praktik teror yang terorganisir.
“Fakta bahwa pelaku berasal dari institusi negara menunjukkan masih adanya ancaman nyata terhadap penegakan HAM dari pihak yang seharusnya menjadi pelindung. Motifnya harus dibuka, apakah ini bentuk intimidasi terstruktur terhadap aktivis? Negara tidak boleh kalah oleh praktik teror yang mengancam kebebasan sipil,” tegasnya.
Mafirion menambahkan, jika negara gagal menyentuh "tangan-tangan" di balik para pelaku, maka publik akan terus mempertanyakan komitmen pemerintah dalam melindungi warganya. Dia meminta para pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya guna memberikan efek jera yang kuat bagi siapa pun yang berniat merusak ruang demokrasi.
“Sudah saatnya negara menunjukkan keberanian, bukan sekadar prosedur. Aparat wajib menelusuri siapa yang memerintah, membiayai, dan diuntungkan. Jika gagal mengungkap dalangnya, maka publik berhak bertanya: ada apa di balik diamnya kekuasaan? Keadilan tidak boleh berhenti di permukaan,” pungkas Mafirion.
Identitas 4 Anggota TNI
Empat anggota TNI terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus berasal dari satuan Denma BAIS. Keempatnya sudah ditahan.
"Keempat yang diduga pelaku ini semuanya anggota dari Denma BAIS TNI. Jadi bukan dari satuan mana-mana tapi dari Denma BAIS TNI," kata Danpuspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto dalam konferensi pers di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/3/2026).
Dia juga membeberkan matra keempat anggota TNI tersebut. Mereka berasal dari TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).
"Supaya nggak berkembang lagi, jadi AL dan AU ya," ucapnya.
Hingga saat ini, keempat anggota TNI yang menyiram air keras terhadap Andrie Yunus belum ditetapkan sebagai tersangka. Yusri menegaskan, pihaknya masih menjunjung asas praduga tak bersalah.
"Kalau nanti dia memang betul sebagai pelakunya, dia akan ditetapkan sebagai tersangka," tegas Yusri.
Yusri kemudian membeberkan identitas dan pangkat empat anggota TNI yang ditahan. Mereka adalah NDP berpangkat Kapten, SL dan BHW yang sama-sama berpangkat Lettu, serta ES dengan pangkat Serda.
"Mereka saat ini menjalani pemeriksaan di Puspom TNI," kata Yusri.
Dia menegaskan pihaknya masih mendalami peran masing-masing dari empat anggota TNI yang diamankan. Proses penyidikan saat ini masih berjalan setelah para terduga pelaku baru diserahkan pada pagi hari.
“Kita nanti akan sampaikan dari keempat pelaku ini siapa berbuat apa, kemudian masing-masing perannya apa," ujar Yusri.
Identitas Versi Polisi
Berbeda dengan TNI, Polda Metro Jaya menyebut ada dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Keduanya adalah BHC dan MAK.
"Kami menduga, bahwa 2 orang yang tadi kami tunjukkan tersebut, dari satu data inisial BHC, dua inisial MAK," jelas Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin.
Iman menambahkan, tidak tertutup kemungkinan jumlah terduga pelaku lebih dari empat orang. Dia memastikan, polisi akan mengungkap kembali terduga pelaku jika sudah ada temuan baru.
"Dari hasil penyelidikan kami tidak menutup kemungkinan ini pelaku dapat diduga lebih dari empat sebagaimana kami sampaikan awal ke rekan-rekan media," ucapnya. Irna**
.jpg)
.jpg)